Kamu,
Iya kamu,
Kamu yang selalu mengusik hari-hariku,
Kamu yang
selalu hiasi hatiku dengan pelangi,
Kamu yang
selalu memberiku tawa,
Tapi kini
kamu memberiku pelangi,
Bukan di
hati,
Tapi di
mata,
Bukan pelangi
yang datang setelah hujan,
Tapi dia
datang sebelum hujan,
Kamu,
Iya kamu,
Kamu yang
tega hianati aku
Kamu yang
tega melukiskan luka di hatiku
Entah mengapa
aku tak bisa
Ingin rasanya
aku membalasmu,
Membuatmu jera,
dengan kebiasaanmu yang selalu lukaiku
Entah kau
menyadarinya atau tidak,
Kamu,
Iya kamu,
Mungkinkah suatu
saat kamu kan mengerti?
Mungkinkah suatu
saat kamu kan merasa kehilangan?
Bila aku tak
ada lagi di sisimu,
Bila aku tak
lagi mengusik tidurmu dengan suara cemprengku
Akankah kau
merindukan aku?
Akankah aku
kan menjadi bagian dari kenangan manismu?
Ataukah aku
bagai foto usang yang ingin kau buang?
Kamu,
Iya kamu
lagi,
Kamu pernah
inginkan aku menghilang dari hidupmu,
Apakah itu
dari lubuk hatimu?
Ataukah hanya
mengobati kecewamu?
Kamu,
Iya kamu,
Kamu yang
berhianat ketika kau merasa jenuh denganku
Akankah kau
kan terus seperti itu?
Bisakah kau
pikirkan hatiku?
Bisakah kau
rasakan bagaimana sakitnya menjadi aku?
Aku menutup
pintu hatiku rapat2 untuk semua cinta yang ingin masuk,
Hanya demi
kamu,
Demi mempertahankan
singasanamu,
Tapi mengapa
kau seperti sengaja,
Berlari kesana
kemari,
Menghinggapi
singasana singasana lainnya,
Tak lelahkah
kau berkelana?
Kamu,
Iya kamu,
Bolehkah kuminta
padamu?
Tetap tinggal
dan diam dihatiku,
Jangan pergi
lagi
Dan jangan
lukai lagi
Sulitkah itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar