6 bulan setelah vonis dokter, Freya merasa
hari-hari nya makin kacau, bahkan memburuk akibat sikap bandel nya yang tak
menuruti apa kata dokter, ketika suatu pagi tiba-tiba Freya menginginkan untuk
pindah ke Paris, sang mama yang mendengar pernyataan anaknya yang tiba-tiba
merasa heran, bukankah putri semata wayangnya itu membenci Paris? Bukankah
dahulu ia menjuluki Paris itu kota kematian Bagi keluarganya, karena di Paris,
kakak sulung Freya meninggal akibat overdosis, bahkan Pacar pertama Freya
meninggal akibat kecelakaan pesawat saat terbang menuju Paris, tapi mengapa
kini anaknya malah memilih tinggal di Paris? Apa yang terjadi dengan Putrinya??
Tak habis pertanyaan berkecamuk di hatinya, Emi melihat putri semata wayangnya
jatuh pingsan, dengan tergopoh gopoh Emi menelepon Ambulance,selama di
perjalanan, tak henti henti nya Emi mengelus elus Rambut Freya yang kini tak
sadarkan diri, desy yang saat itu sedang jalan-jalan bersama Aldy terkejut
mengapa tiba-tiba tante Emy meneleponnya, biasanya tante tersayang nya akan
meneleponnya jika freya jalan-jalan dengannya hingga larut malam,tapi dia tau
Freya saat ini ada dirumah, dengan was was Desy mengangkat teleponnya, dan
seketika muka nya pucat pasi begitu mendengar sahabatnya koma di rumah sakit,
Aldy yang mendengar itu dari Desy langsung memutar arah kemudi menuju Rumah
sakit Bhayangkara, dimana Freya dirawat, jujur saat itu dalam hatinya hanya Freya,walau
kini ia telah berpacaran dengan Desy, itu semata hanya mengobati rasa sakit
hatinya akibat Freya berpaling pada laki-laki lain yang mencampakkannya setelah
1minggu berpacaran.
Sesampainya dirumah sakit, Aldy melihat
kondisi Freya yang masih tetap cantik meski sedang sakit, tanpa disadari nya,
sudah 3 bulan dia berpisah dengan Freya, dan selama 3 bulan itu dia tak bertemu
dengan Freya, lebih tepatnya dia membenci Freya,karena telah berhianat, namun
kini kebencian itu menguap , yang ada hanya perasaan rindu yang berkecamuk,
ya.. ia merindukan Freya, Freya yang dulu ceria, “kalender berjalannya” yang
slalu mengingatkan hari hari penting yang slalu terlupa olehnya, namun kini
Desy berbeda, Desy hanya memintanya tuk menemani ke salon dan sebagai nya. Berbeda
dengan Freya yang mandiri, bahkan ia tak suka disebut manja, tapi kini???
Gadisnya itu tergolek tak berdaya, dengan selang oksigen yang menempel di
tubuhnya. Tanpa terasa seminggu Freya koma, dan hari ini Freya tersadar dari
koma nya, begitu tahu Freya sadar, refleks Aldy memeluknya, Desy yang melihat
hal itu memaklumi, karena bagaimanapun sahabatnya itu pernah menjadi orang
special dalam hidup Aldy, bahkan mungkin kini dirinya lah yang merasa bersalah,
merebut Aldy dari Freya, ehm lebih tepatnya memungut Aldy yang sudah
dicampakkan oleh Freya. Namun Aldy terkejut saat Freya melepas pelukannya,
pandangan freya kosong seolah olah tak mengenali orang orang sekelilingnya,
bahkan tak terucap sepatah kata pun, freya seperti orang asing yang tersesat,
“ataukah ini efek dari koma ya?” Batin Aldy, namun bagaimanapun kondisi Freya ,
Aldy tak mempermasalahkan, ia akan tetap berada disamping gadisnya, gadis yang
begitu disayangi, gadis yang begitu dikagumi, gadis yang begitu tegar walau
masalah menerpa nya, tak pernah Aldy melihat Freya menangis, hanya sekali ia
melihat Freya menangis, itu pun karena presentasi sejarah nya berantakan dan
saat itu dia sedang lelah, tapi hari hari berikutnya Freya kembali ceria, hari
bergati tak terasa sudah 1 bulan Freya dirawat, dan Aldy pun tak tau apa
penyakit yang diderita Freya, karena sang dokter tak memberitahunya. Hingga
saat itu tiba, saat aldy membawa gadis itu berjalan jalan di taman, Freya
menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya, barulah Aldy tau apa yang
sebenarnya diderita Freya, penyakit yang membunuhnya perlahan, yaitu Alzheimer.
Penyakit yang membuatnya membenci sejarah, penyakit yang membuatnya lemah.
*Bersambung
*Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar