Di bangku taman ini Freya menikmati
kesendiriannya, berteman lagu lagu sendu dan semilir angin yang membelai
rambutnya,sejak dokter menjatuhkan vonis terhadap dirinya bahwa Alzheimer mulai
memasuki hidupnya, tak ada lagi semangatnya untuk menjalani hari. Ia tau perlahan
tapi pasti Alzheimer akan menghapus semua ingatannya, walaupun sekarang
ingatannya cukup baik hal itu tidak menutup kemungkinan Alzheimer musnah, benih
Alzheimer ia dapati dari kakeknya yang meninggal karena penyakit yang
membunuhnya secara perlahan. Terkadang
ia merasa benci pada Tuhan, mengapa ia dikaruniai penyakit ini disaat hidupnya
terasa sempurna, bayangkan saja, dia dikelilingi orang orang yang
menyayanginya, dia punya mimpi yang belum sempat terwujud, dia punya sahabat
dan kekasih yang amat disayangi, namun semua itu seakan tak bermakna sejak
Alzheimer hadir di hidupnya dan slalu menghantui tidurnya dengan mimpi buruk
yang berkepanjangan, lebih tepatnya sejak satu minggu yang lalu, saat itu dia
selalu lupa terhadap apa yang akan dikerjakannya, bahkan ia lupa dimana ia
memarkir motor bebek kesayangannya, hal yang langka bagi Desy(sahabat Freya)
mengingat Freya bukan orang pelupa, bahkan hal sepele pun diingatnya, tapi
kenapa sekarang Freya jadi pelupa? Dengan hati-hati Desy menegur Freya “eh re’
kamu kenapa akhir-akhir ini pelupa banget sih? Perlu di refresh tuh otak kamu”
mendengar celetukan sahabatnya, Freya baru sadar kalau akhir-akhir ini dia
sering lupa, “entahlah de’mungkin otak ku lagi error aja, maklum banyak tugas,
oiya aku pulang duluan yah” tanpa menunggu persetujuan Desy, Freya berlalu
dengan motor bebek kesayangannya. Tanpa pikir panjang ia mengarahkan motornya
ke rumah dokter Dani, dokter langganan almarhumah kakeknya, sesampainya di
rumah dokter Dani Freya mengadukan keluhannya, begitu selesai cerita Freya,
dokter Dani menyimpulkan bila dia mengidap Alzheimer seperti almarhumah
kakeknya yang meninggal setahun yang lalu, gejala yang dialami pun sama, dengan
hati-hati dokter Dani menyampaikan hal itu pada Freya, namun reaksi yang
ditunjukkan Freya biasa saja, bukan terkejut atau menangis seperti pasien
pasien Alzheimer yang terdahulu, hanya saja sang dokter sedikit terkejut, baru
kali ini ia dapati pasien Alzheimer di usia dini seperti Freya, terlalu
menyakitkan seorang gadis usia 19 tahun harus menerima kenyataan dirinya akan
mengalami pikun lebih cepat. Padahal di usia segitu harusnya dia sedang
sibuknya menikmati indahnya cinta,persahabatan dan merasakan kebebasan hidup.
“dok, kok ngelamun? Jadi saya harus gimana dok? Supaya penyakit ini sembuh?”
gerutu Freya tidak sabaran melihat dokter dani nya melamun. Lalu dokter
menuliskan resep untuk Freya, dan dia harus menebus obat itu di apotik yang
biasa ia membeli obat untuk kakeknya. Akhirnya Freya pamit setelah menerima
resep itu, “ah obat yang sama” gerutunya, bukannya menebus obat, Freya malah
merobek kertas resep itu, dia tau kalau dia meminum obat itu, efeknya akan
mual-mual dan sakit kepala yang berkepanjangan seperti dulu kakeknya yang slalu
bergantung dengan obat itu.
Seminggu berlalu sejak vonis dokter,
namun kini ia rasakan baik baik saja bahkan ingatannya tak seburuk kemarin,
kini Freya menikmati sore harinya dengan menulis puisi, menulis diary tentang
apa yang dilakukannya di sisa hari yang dia miliki, tanpa ada seorangpun yang
tau jika Freya mengidap Alzheimer, hanya saja yang berbeda dari Freya, kini ia
membawa buku harian nya kemana mana, karna di situ ia tulis apa yang ia rasakan
dan apa yang ia lakukan hari ini dan apa yang akan dilakukan setelahnya,hinggga
tak ada yang menyadari bahwa sesungguhnya “kalender berjalan” begitu teman
temannya menjulukinya, tak lagi berfungsi, yang ada hanya Freya dengan smua hal
yang perlahan lahan ia lupakan, Aldy yang menyadari perubahan tingkah laku
kekasihnya pun mulai curiga, ada apa dengan kekasihnya hingga tampak begitu
aneh dan tak pernah antusias lagi jika membahas topik yang berbau
sejarah,dengan hati-hati aldy bertanya padanya “ fre, kamu kenapa? Kok sekarang
ga pernah masuk kelas sejarah?” “lagi
males aja bahas sejarah,pengen bahas masa depan aja sama kamu” dalih Freya
dengan senyumannya yang menggoda,hari-hari berlalu, kini tiba saatnya Freya
mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, dia akan berpura pura jatuh
cinta dengan pria lain,dan kebetulan saat itu desy sedang patah hati akibat
ditinggalkan pacarnya, “Des, kamu semakin
akrab yah sama Aldy? Aku nitip dia yah sama kamu” desy yang ditanya begitu langsung kaget, “Re’ kamu jangan macem macem dong, kamu mau
bunuh diri kah? Ya Ampun jangan yah, ntar ga ada tempat buat curhat lagi aku” “yeee
siapa yang mau bunuh diri?? Ehm..aq lagi deket sama Rama nih, aku bosen sama
Aldy, boleh kan De’??? toh katanya kamu ga mempermasalahkan tampang kan
sekarang? Apa kurangnya aldy selain dia kurang tampan? Hehe“ Desy yang dibilangi begitu langsung geleng
geleng ketawa, “aduh Re’ sadis kamu yah,Aldy
tuh sayang banget sama kamu, inget yah re’jangan pernah sia-siakan orang yang
sayang sama kamu”
Desy yang kesal atas pengakuan Freya
pun nyerocos panjang lebar, hingga tanpa sadar Freya yang mendengar pun
membatin dalam hati “ andai kamu tau apa
yang sebenarnya terjadi De’kamu pasti bakal bingung harus gimana” .
*Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar