Minggu, 26 Mei 2013

Kisah Diujung Senja

Di bangku taman ini Freya menikmati kesendiriannya, berteman lagu lagu sendu dan semilir angin yang membelai rambutnya,sejak dokter menjatuhkan vonis terhadap dirinya bahwa Alzheimer mulai memasuki hidupnya, tak ada lagi semangatnya untuk menjalani hari. Ia tau perlahan tapi pasti Alzheimer akan menghapus semua ingatannya, walaupun sekarang ingatannya cukup baik hal itu tidak menutup kemungkinan Alzheimer musnah, benih Alzheimer ia dapati dari kakeknya yang meninggal karena penyakit yang membunuhnya  secara perlahan. Terkadang ia merasa benci pada Tuhan, mengapa ia dikaruniai penyakit ini disaat hidupnya terasa sempurna, bayangkan saja, dia dikelilingi orang orang yang menyayanginya, dia punya mimpi yang belum sempat terwujud, dia punya sahabat dan kekasih yang amat disayangi, namun semua itu seakan tak bermakna sejak Alzheimer hadir di hidupnya dan slalu menghantui tidurnya dengan mimpi buruk yang berkepanjangan, lebih tepatnya sejak satu minggu yang lalu, saat itu dia selalu lupa terhadap apa yang akan dikerjakannya, bahkan ia lupa dimana ia memarkir motor bebek kesayangannya, hal yang langka bagi Desy(sahabat Freya) mengingat Freya bukan orang pelupa, bahkan hal sepele pun diingatnya, tapi kenapa sekarang Freya jadi pelupa? Dengan hati-hati Desy menegur Freya “eh re’ kamu kenapa akhir-akhir ini pelupa banget sih? Perlu di refresh tuh otak kamu” mendengar celetukan sahabatnya, Freya baru sadar kalau akhir-akhir ini dia sering lupa, “entahlah de’mungkin otak ku lagi error aja, maklum banyak tugas, oiya aku pulang duluan yah” tanpa menunggu persetujuan Desy, Freya berlalu dengan motor bebek kesayangannya. Tanpa pikir panjang ia mengarahkan motornya ke rumah dokter Dani, dokter langganan almarhumah kakeknya, sesampainya di rumah dokter Dani Freya mengadukan keluhannya, begitu selesai cerita Freya, dokter Dani menyimpulkan bila dia mengidap Alzheimer seperti almarhumah kakeknya yang meninggal setahun yang lalu, gejala yang dialami pun sama, dengan hati-hati dokter Dani menyampaikan hal itu pada Freya, namun reaksi yang ditunjukkan Freya biasa saja, bukan terkejut atau menangis seperti pasien pasien Alzheimer yang terdahulu, hanya saja sang dokter sedikit terkejut, baru kali ini ia dapati pasien Alzheimer di usia dini seperti Freya, terlalu menyakitkan seorang gadis usia 19 tahun harus menerima kenyataan dirinya akan mengalami pikun lebih cepat. Padahal di usia segitu harusnya dia sedang sibuknya menikmati indahnya cinta,persahabatan dan merasakan kebebasan hidup. “dok, kok ngelamun? Jadi saya harus gimana dok? Supaya penyakit ini sembuh?” gerutu Freya tidak sabaran melihat dokter dani nya melamun. Lalu dokter menuliskan resep untuk Freya, dan dia harus menebus obat itu di apotik yang biasa ia membeli obat untuk kakeknya. Akhirnya Freya pamit setelah menerima resep itu, “ah obat yang sama” gerutunya, bukannya menebus obat, Freya malah merobek kertas resep itu, dia tau kalau dia meminum obat itu, efeknya akan mual-mual dan sakit kepala yang berkepanjangan seperti dulu kakeknya yang slalu bergantung dengan obat itu.
Seminggu berlalu sejak vonis dokter, namun kini ia rasakan baik baik saja bahkan ingatannya tak seburuk kemarin, kini Freya menikmati sore harinya dengan menulis puisi, menulis diary tentang apa yang dilakukannya di sisa hari yang dia miliki, tanpa ada seorangpun yang tau jika Freya mengidap Alzheimer, hanya saja yang berbeda dari Freya, kini ia membawa buku harian nya kemana mana, karna di situ ia tulis apa yang ia rasakan dan apa yang ia lakukan hari ini dan apa yang akan dilakukan setelahnya,hinggga tak ada yang menyadari bahwa sesungguhnya “kalender berjalan” begitu teman temannya menjulukinya, tak lagi berfungsi, yang ada hanya Freya dengan smua hal yang perlahan lahan ia lupakan, Aldy yang menyadari perubahan tingkah laku kekasihnya pun mulai curiga, ada apa dengan kekasihnya hingga tampak begitu aneh dan tak pernah antusias lagi jika membahas topik yang berbau sejarah,dengan hati-hati aldy bertanya padanya “ fre, kamu kenapa? Kok sekarang ga pernah masuk kelas sejarah?”   “lagi males aja bahas sejarah,pengen bahas masa depan aja sama kamu” dalih Freya dengan senyumannya yang menggoda,hari-hari berlalu, kini tiba saatnya Freya mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, dia akan berpura pura jatuh cinta dengan pria lain,dan kebetulan saat itu desy sedang patah hati akibat ditinggalkan pacarnya, “Des, kamu semakin akrab yah sama Aldy? Aku nitip dia yah sama kamu”  desy yang ditanya begitu langsung kaget, “Re’ kamu jangan macem macem dong, kamu mau bunuh diri kah? Ya Ampun jangan yah, ntar ga ada tempat buat curhat lagi aku”  “yeee siapa yang mau bunuh diri?? Ehm..aq lagi deket sama Rama nih, aku bosen sama Aldy, boleh kan De’??? toh katanya kamu ga mempermasalahkan tampang kan sekarang? Apa kurangnya aldy selain dia kurang tampan? Hehe“  Desy yang dibilangi begitu langsung geleng geleng ketawa, “aduh Re’ sadis kamu yah,Aldy tuh sayang banget sama kamu, inget yah re’jangan pernah sia-siakan orang yang sayang sama kamu”

Desy yang kesal atas pengakuan Freya pun nyerocos panjang lebar, hingga tanpa sadar Freya yang mendengar pun membatin dalam hati “ andai kamu tau apa yang sebenarnya terjadi De’kamu pasti bakal bingung harus gimana” .

*Bersambung

Tidak ada komentar: