Seperti senja, pergimu setiap hari tak pernah sama, terkadang ada
mentari yang malu-malu bersembunyi dibalik mega, terkadang tak ada tanda
apapun. Kau selalu saja begitu. Datang tanpa permisi pergi pun tanpa pamit. Seperti
hari ini,kau tiba-tiba hadir di hidupku tanpa kau tau aku hampir saja selesai, menyusun
menara untukku bersembunyi dari serangan rindu yang akan hadir saat kau pergi
nanti. Kau tanpa rasa bersalah menyentuh hatiku “lagi” iya lagi , karena kau
telah berulang kali menyentuhnya , membawanya dan mengembalikannya dalam
keadaan terluka, dan kini? Kau mulai menyentuhnya, bersiap – siap membawanya
pergi lagi. Lantas kutanyakan padamu, apa nanti hatiku kan kembali dalam
keadaan terluka lagi? Kalau iya tolong jangan kau sentuh lagi jika hanya untuk
kau campakkan, dan kau hanya bergeming dengan senyum mu yang kini membuatku
muak, iya muak, karena aku jengah dengan sikapmu yang lagi dan lagi selalu
sama, selalu begini tak mencoba mengubah. Kau selalu memintaku mengubah ini
itu, memintaku perlahan meninggalkan duniaku , meninggalkan zona nyaman ku. Sementara
kau? Mencoba memperbaiki saja tak pernah. Selalu dengan bertubi-tubi alasan,
selalu saja kesalahan berada di pihak ku, dan bodohnya aku mengakui jika itu
salahku. Kau. Jangan lagi hadir ya,, menaraku hampir selesai, jangan kau serang
dengan rindu-rindu mu yang palsu, jangan kau bombardir dengan cinta-cinta mu
yang semu, aku lelah dan biarkan aq disini, beristirahat, aku ingin berdamai
denganmu , dengan hatiku, agar aku tak sakit lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar