Kamis, 25 September 2014

Seperti senja

Seperti senja, pergimu  setiap hari tak pernah sama, terkadang ada mentari yang malu-malu bersembunyi dibalik mega, terkadang tak ada tanda apapun. Kau selalu saja begitu. Datang tanpa permisi pergi pun tanpa pamit. Seperti hari ini,kau tiba-tiba hadir di hidupku tanpa kau tau aku hampir saja selesai, menyusun menara untukku bersembunyi dari serangan rindu yang akan hadir saat kau pergi nanti. Kau tanpa rasa bersalah menyentuh hatiku “lagi” iya lagi , karena kau telah berulang kali menyentuhnya , membawanya dan mengembalikannya dalam keadaan terluka, dan kini? Kau mulai menyentuhnya, bersiap – siap membawanya pergi lagi. Lantas kutanyakan padamu, apa nanti hatiku kan kembali dalam keadaan terluka lagi? Kalau iya tolong jangan kau sentuh lagi jika hanya untuk kau campakkan, dan kau hanya bergeming dengan senyum mu yang kini membuatku muak, iya muak, karena aku jengah dengan sikapmu yang lagi dan lagi selalu sama, selalu begini tak mencoba mengubah. Kau selalu memintaku mengubah ini itu, memintaku perlahan meninggalkan duniaku , meninggalkan zona nyaman ku. Sementara kau? Mencoba memperbaiki saja tak pernah. Selalu dengan bertubi-tubi alasan, selalu saja kesalahan berada di pihak ku, dan bodohnya aku mengakui jika itu salahku. Kau. Jangan lagi hadir ya,, menaraku hampir selesai, jangan kau serang dengan rindu-rindu mu yang palsu, jangan kau bombardir dengan cinta-cinta mu yang semu, aku lelah dan biarkan aq disini, beristirahat, aku ingin berdamai denganmu , dengan hatiku, agar aku tak sakit lagi

Sabtu, 20 September 2014

Cinta monyet "May Be"

Cinta monyet
Apakah itu masih bisa dikatakan cinta monyet? Ketika bertahun-tahun lamanya rasa itu masih tersimpan, apakah masih bisa dikatakan cinta monyet? Jika disetiap puisi selalu engkau yang menjadi inspirasi? Kamu adalah awal, awal aku dimana bisa merasa senang, awal dimana aku tau rasanya dicintai , kamu adalah awal, awal dari tindakan bodohku, tindakan bodoh yang tak sekalipun kusesali karena aku menyukainya, menyukai kebodohan yang aku buat.
Apakah masih bisa dikatakan cinta monyet? Jika disetiap jeda kita selalu memberi kabar, berjuang satu sama lain agar tak terputus ikatan “teman” iya teman, karena kau telah bersamanya dan akupun begitu. Masihkah disebut cinta monyet? Jika kau sengaja meluangkan waktu, meninggalkannya meski sejenak hanya tuk menemuiku.
Ada terselip kebanggaan tersendiri di benakku ,  ketika semua orang menanyakan keberadaanmu , dan tak seorang pun tau kau dimana, sedangkan aku, aku yang jauh darimu , bersebrangan pulau denganmu , tau kau sedang apa dan dimana. Ada senyum yang terukir setiap dering handphone dan disitu terlihat namamu memanggil. Ada senyum tersendiri ketika sapaan pertama dalam obrolan kita. Sapaan yang tak pernah berubah sejak sewindu lalu.

Masihkah ini disebut cinta monyet? Ataukah ini cinta diam-diam? Yang hanya aku, kau dan Tuhan yang tau.

Jumat, 12 September 2014

Kemarin dan Hari Ini

Kemarin,
Ya hari kemarin
Kau membuang ketulusan itu
Kau abaikan ketulusan yang tertuju hanya untukmu
Kau campakkan bak sampah hina
Dan bahkan kau enggan menatapnya lagi
Kau,
Anggap aku seperti sampah busuk yang harus kau jauhi
Semua cacian, hinaan, kau lontarkan tanpa bersalah
Kau anggap aku layak menerimanya
Bahkan sumpahmu,
Sumpah penuh kebencian,
Sumpah penuh amarah
Dan aku,,
Aku dengan kebodohanku
Hanya bisa diam
Terpaku
Menerima semua hinaan yang mendarat untukku
Menelan kekecewaan seorang diri
Inikah yang kupuja selama ini?
Inikah makhluk yang kucinta selama ini?
Aku,,
Merasakan sendiri
Perih yang perlahan menyesap di relung hati
Membiarkan hatiku terluka, terkoyak lalu melebur
Hingga akhirnya aku menyerah, membiarkan hatiku disana,
Pergi tanpa ada hatiku yang tersisa di diri ini
Meninggalkan serpihannya yang masih luka dan membiru
Teronggok disana
Dan hari ini,
Hari ini kau mulai berbalik
Kau mulai mengaisnya lagi
Sisa sisa serpihan yang kutinggalkan
Sisa puing hati yang dulu kau campakkan
Kau mulai menangisi
Air mataku yang dulu terjatuh untukmu
Kau mulai meratapi
Hatiku yang tak lagi tersisa untukmu
Kamu,
Apakah kamu sadar?
Tolong raba hatimu
Masih kah ia disana?
Ataukah dia tlah pergi ditelan amarahmu
Ataukah ia tlah hancur dihempas keserakahanmu?
Raba lagi hatimu
Masihkah ia disana
Dan jangan pernah kembali padaku

 sebelum hatimu ada padamu