Mencari, entah apa yang
dicari
Merindu, entah kepada
siapa rindu itu berlabuh
Rangkaian kata,
Bait-bait puisi,
Hanya terangkai dalam kelu
nya lidah,
Tak terucap, tak tertulis,
Hanya sebagai penghias
angan,
Melukis sketsa wajah yang
enggan kau temui
Sketsa terindah yang slalu
hadir di impimu
Penghias angan sang
pecundang
Iya.. kau pecundang..!!
Yang selalu Menanti, entah
sampai kapan
Menunggu, entah apa yang
ditunggu
Hingga dekade demi dekade
terlewatkan,
Masa demi masa teracuhkan,
Entah apa yang ada dalam
benakmu
Hingga detik berlalu
menjadi menit,
Hingga denyutmu mulai
melemah,
Apa yang kau nanti?
Apa yang kau tunggu?
Masihkah kau bersikukuh
dengan diammu?
Sengajakah kau biarkan
detik itu berlalu?
Detik yang begitu
berharga,
Detik yang takkan terulang
tuk kedua kalinya?
Dan akhirnya garis lurus
itu mengakhiri semuanya
Mengakhiri diammu menjadi
isakan kecil,
Mengubah heningmu menjadi
gema yang enggan berkesudahan,
Inikah yang kau tunggu?
Inikah yang selama ini kau
cari?
Lantas untuk apa kau
penuhi anganmu dengan bait-bait puisi indah
Lantas untuk apa kau
habiskan waktu di sepanjang hidupmu tuk rangkai bait-bait puisi?
Jika tuk sampaikannya saja
kau enggan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar