Kamis, 26 September 2013

tak perlu Radar


Ku bahagia kau telah terlahir di dunia,
dan kau ada diantara milyaran manusia,
dan ku bisa dengan radarku menemukanmu....
#perahu_kertas


Aku,
Aku tak perlu radar neptunus tuk bisa temukanmu
Tak perlu perahu kertas tuk sampaikan pesan untukmu
Entahlah,
Kekuatan apa yang membuat radarku begitu kuat
Radar yang hidup hanya saat ada kamu
Radar yang berdenyut saat kutatap sosokmu
Aku tak pernah berharap lebih
Cukup mencintaimu dalam diam,
Menatapmu dari kejauhan,
Dan hanya berani menyapamu dalam anganku,
Tak apalah,
ini sudah lebih dari cukup untuk pengagum rahasia sepertiku
hanya mengabadikan sosokmu dalam bingkai foto
mengabadikan rasa ini dalam bait-bait puisi
yang entah sampai kapan mampu bertahan J




#dedicated_for_MW

Senin, 16 September 2013

Luka yang tak pernah sembuh


Luka itu takkan pernah sembuh
Selama mata masih mampu melihat
Luka itu takkan pernah sembuh
Selama hati masih tersakiti
Dan  luka itu takkan pernah sembuh
Selama jantung masih berdetak
Selama raga masih bernyawa
Entah harus berapa lama menyimpan luka itu sendirian
Bertahan dengan dendam yang semakin lama semakin terasa menyakitkan
Bertahan dengan kepura-puraan yang semakin menyesakkan
Berpura baik-baik saja
Berpura-pura bahagia
Tersenyum, walau hati menangis
Tertawa, walau batin teriris
Entahlah
Andai membalasmu semudah membalikkan telapak tangan
Andai membalasmu tak membuatku terluka
Mungkin sudah sejak lama kubalas sikapmu
Sampai kapan harus diam,
Menanti luka itu sembuh dengan sendirinya
Menanti ingatanku yang memudar
Tuhan,
Andai saja bisa kuputar waktu
Ah,
Tapi Tuhan aku tak ingin berandai andai
Walau sebenarnya kau bisa saja memutar waktu
Tuhan,
Buat aku tegar
Buat aku mampu hadapi semua
Buat aku bertahan simpan luka yang selalu dia gores
Hingga akhirnya semua jadi baik-baik saja
Dan aku terbiasa dengan luka


Senin, 09 September 2013

Bicara Takdir


Seseorang menyebutnya takdir,
Ketika kita bertemu
Seseorang menyebutnya takdir,
Ketika kita dihadapkan pada pilihan yang sama

Kita,
Tak ada ikrar pasti yang terucap secara lisan
Hanya tatapan mata yang mungkin menjelaskannya
Menggunakan bahasa hati, yang tak seorang pun tau

Dalam diamku, Diam mu,
Menciptakan hening yang panjang,
Yang gema nya hanya aku dan kamu yang pahami
Dalam diam kucintai sosokmu
Dalam diam kucintai bayanganmu

Kita menyebutnya takdir,
Saat aku dan kamu memilih jalan yang berbeda,
Dan bertemu lagi di satu titik

Dan aku,
Aku menyebutnya takdir,
Ketika kita saling cinta,

Tanpa saling memiliki

Jumat, 06 September 2013

Pecundang

Mencari, entah apa yang dicari
Merindu, entah kepada siapa rindu itu berlabuh
Rangkaian kata,
Bait-bait puisi,
Hanya terangkai dalam kelu nya lidah,
Tak terucap, tak tertulis,
Hanya sebagai penghias angan,
Melukis sketsa wajah yang enggan kau temui
Sketsa terindah yang slalu hadir di impimu
Penghias angan sang pecundang
Iya.. kau pecundang..!!
Yang selalu Menanti, entah sampai kapan
Menunggu, entah apa yang ditunggu
Hingga dekade demi dekade terlewatkan,
Masa demi masa teracuhkan,
Entah apa yang ada dalam benakmu
Hingga detik berlalu menjadi menit,
Hingga denyutmu mulai melemah,
Apa yang kau nanti?
Apa yang kau tunggu?
Masihkah kau bersikukuh dengan diammu?
Sengajakah kau biarkan detik itu berlalu?
Detik yang begitu berharga,
Detik yang takkan terulang tuk kedua kalinya?
Dan akhirnya garis lurus itu mengakhiri semuanya
Mengakhiri diammu menjadi isakan kecil,
Mengubah heningmu menjadi gema yang enggan berkesudahan,
Inikah yang kau tunggu?
Inikah yang selama ini kau cari?
Lantas untuk apa kau penuhi anganmu dengan bait-bait puisi indah
Lantas untuk apa kau habiskan waktu di sepanjang hidupmu tuk rangkai bait-bait puisi?
Jika tuk sampaikannya saja kau enggan