Tlah habis semua cara
Untuk menyadarkanmu
Telah kering arasanya air
mata
Tuk memohon kau pahami
Hatiku,
Apakah kini tak penting
lagi bagimu?
Cintaku,
Apakah kini tak lagi
berarti di hatimu?
Apakah api cinta itu telah
padam?
Aku,
Kini bagai seonggok novel
usang
Yang sudah enggan kau lirik,
Apalagi kau baca
Apakah seperti itu aku dimatamu?
Apakah aku hanya beban
bagimu?
Ataukah aku bagian dari
masalahmu?
Hingga kau begitu ingin
aku menghilang dari hidupmu
Harus dengan apalagi?
Harus bagaimana lagi?
Tak bisakah kau sedikit
peduli
Akan hatiku yang kini
terluka
Cobalah sejenak kau lihat
Agar kau tau bagaimana aku
coba bertahan
Bertahan dengan diamku
Bertahan dengan lukaku
Bertahan dengan kesepianku
Bertahan dengan sekeping
hati yang enggan kau hiraukan
Apakah aku, mainan lamamu
ini tak lagi ingin kau sentuh?
Apakah yang baru lebih
indah?
Ya, memang lebih indah,
dan aku tau,
Dia sesuai dengan apa yang
kau cari
Aku merasakannya,
Aku merasakan perbedaan
itu
Kau saja yang tak peka
akan hatiku
Haruskah aku merelakan?
Haruskah aku terima takdir
kesendirianku nanti?
Karna tak mudah bagiku
temukan yang lain
Tak mudah tuk labuhkan
hatiku di sembarang hati
Tapi haruskah ku tahan
sakit ini?
Hingga pada akhirnya tak
mampu lagi aku menahannya
Hingga akhirnya aku
memilih jalan terperih yang harus kulalui...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar