Kamu, hingga kini aku belum mengerti akan deskripsi
rasa ini, rasa yang mampu bertahan bertahun-tahun, rasa yang ntah mengapa dia
tak mau pergi, perasaan yang tak lagi mengharap balasan, perasaan mengagumi
tanpa berharap bisa memiliki, keyakinan, entah darimana datangnya yakinku
akanmu, walau tak kutau perasaanmu sesungguhnya, tapi dari lubuk hati ini
selalu yakin akanmu, kamu yang tak pernah ingkar, kamu yang selalu tepat waktu
ketika ku inginkan kau hadir, kamu yang selalu memberi tanpa pernah kuminta, kamu
yang memihakku dibanding dia, kekasihmu yang tlah lama menemanimu, entahlah,
aku tak ingin menduga-duga, cukup mengagumimu dan menikmati sisa cintamu dengan
bertamengkan kata teman, ya, lebih indah disebut teman dibanding mantan, ah,
aku tak suka disebut mantan, terdengar perih , walau itu membuktikan aku pernah
memilikimu, tapi kini status itu tak lagi penting, yang terpenting kini kau
selalu ada untukku, selalu siap kapanpun kumau dirimu ada, bagi sebagian besar
orang, mencintai dalam diam itu menyakitkan, tapi ntah mengapa tidak bagiku,
semuanya terasa indah, toh kita sama-sama tahu, ada garis pembatas yang tak
kasat mata, garis itu bernama dia, dia yang bersamamu, dia yang bersamaku,
Kita, tak pernah ada ikrar yang terucap setelah
kita akhiri semuanya, tapi mengapa semuanya terasa lebih indah ketika kita tak
terikat, tak ada perasaan yang tertutupi, tak ada perasaan tertekan ketika kita
tak saling menghubungi, tapi entah mengapa hati kita seakan terpaut, seperti
ada janji yang tak terucapkan, namun berusaha tuk ditepati, ada perasaan
gelisah ketika rindu itu hadir, perasaan berdebar menanti saat berjumpa,mungkin
memang tak bisa lagi dipungkiri, antara kita ada cinta yang tak disadari,
olehku, olehmu, oleh dia yang kini bersamamu dan bersamaku. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar