Jumat, 17 April 2020

Seseorang Yang Tak Pernah Kuperhitungkan

Awalnya,  kehadirannya sama sekali tak pernah kuperhitungkan,  dan mungkin baginya akupun demikian.
Tak akan masuk dalam daftar seseorang yang mungkin dicintai.
Kita hanya bertukar sapa,  bertukar cerita,
Menceritakan kekasih masing-masing.
Dan entah bagaimana persisnya,  kita sama-sama ditinggalkan pasangan masing-masing.
Hari berganti bulan,  berganti tahun,  entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta,  atau mungkin lebih tepatnya "siapa yang lebih dulu berusaha jatuh cinta"
Lambat laun waktu memainkan perannya dengan sangat baik.
2 sayap yang sedang patah itu tiba-tiba ingin terbang bersama,  berusaha menguatkan satu sama lain.
Berusaha saling membahagiakan.
Namun lagi-lagi waktu kembali memainkan perannya,  kalimat yang pada mulanya "jalani saja seperti air mengalir"  tiba-tiba berubah menjadi keinginan memiliki secara utuh,  lucunya,  seseorang yang dulu tak pernah kuperhitungkan,  tiba-tiba menjadi seseorang yang begitu kuharapkan kehadirannya setiap saat.
Seseorang yang kata sahabatku hanya sebuah objek pelampiasan,  menjadi seseorang yang begitu kuinginkan.
Dan disaat yang sama,  waktu dengan tega memainkan perannya yang terakhir.
Dan seseorang yang tidak pernah kuperhitungkan itu,  menjadi seseorang yang paling melukai tanpa dia melakukan apapun selain "pergi" 

Minggu, 27 Januari 2019

kamu (lagi)

hey sephia , jangan pernah panggil namaku jika kita bertemu lagi dilain hari"

Hay , akhirnya aku menuruti apa katamu, apa yang selalu kita bicarakan jauh sebelum hari ini tiba.
kesepakatan sederhana untuk 2 insan yang saling jatuh hati namun takdir tak berpihak untuk kita saling memiliki
ah andai kita dipertemukan lebih cepat
ah andai saja belum ada dia yang kini bersamaku dan dia yang saat ini menemanimu
serta andai-andai lainnya
kita hanya 2 insan yang mencoba bertahan meski tau itu salah
2 insan yang saling membahagiakan sebelum akhirnya saling melukai
2 insan yang slaing memluk erat sebelum diam-diam saling melepas
dan sebelum hari ini tiba, percayalah aku telah mencoba sekuat tenaga menabahkan hatiku
dan akhirnya saat hari ini tiba
segala benteng yang kuciptakan luruh seketika
ingin rasanya aku berlari memelukmu seperti yang biasa kulakukan
ingin rasanya menumpahkan segala rasaku padamu
bercerita banyak hal tentang mimpi-mimpi yang kita tau tak dapat diraih jika bersama
ah aku masih ingin menghabiskan banyak waktu ku denganmu
tapi takdir tak sebaik itu pada kita
dan kini
kau bukan lagi pria yang sama seperti dulu
bukan pria yang bisa kapan saja kupeluk jika rindu, apalagi kumiliki 
bukan pria lajang yang dengannya aku biasa menghabiskan soreku
kau..
pria yang saat ini tubuhnya tlah dimiliki wanita lain
wanita yang saat ini bahagia bersamamu
yang dengan bangga menunjukkanmu pada dunia bahwa ia bangga memilikimu
bukan wanita sepertiku yang hanya bisa mencintaimu dalam hening
dalam dunia yang hanya ada kita berdua di dalamnya

Kamis, 30 Agustus 2018

K A M U


Ini semua tentang kamu, tentang kamu yang tak pernah kusebutkan menjadi pujaan hati. Tentang kamu yang namanya tak mampu ku ucap didepan siapapun. Tentang kamu yang selalu menjadi tokoh dalam puisi-puisi ku. Yang selalu kubicarakan dengan Tuhanku. Tapi ini bukan tentang bagaimana aku mencintaimu ataupun bahagia bersamamu, melainkan tentang aku yang sedang belajar merelakanmu, merelakanmu berbahagia dengan dia yang kini menjadi pilihanmu. Aku belajar merelakan mimpi-mimpi yang ingin kuwujudkan bersamamu. Aku pun belajar meneruskan hidupku yang tak akan ada lagi kamu didalamnya. Aku belajar mengikhlaskanmu , mengikhlaskan penantian panjang yang selama ini kulakukan, mengikhlaskan jika bukan kamu lagi yang menjadi alas an aku merayu Tuhan. Aku belajar menerima ketiadaanmu, meniadakan kamu yang selalu menjadi  objek menarik dalam imajinasiku, tokoh utama dalam puisiku, aku belajar menghilangkan kamu dalam setiap jejakku, dalam setiap karya yang kucipta. Tapi ternyata semua tak mudah, bahkan dalam tulisan ini kau masih hidup dan menjadi tokoh utama.