Jumat, 14 Agustus 2015

suati hari nanti

Suatu hari nanti
Bila temu masih berpihak pada kita
Suatu hari nanti
Bila benci dan dendam telah lebur oleh waktu
Akan ku ceritakan padamu
Bagaimana caraku bertahan
Bagaimana caraku melewati semua
Dan tentunya bagaimana caraku sembuh
Dari luka yang kau timbulkan
Suatu hari nanti
Bila aku benar2 sembuh dari luka
Jangan pernah menyentuhnya lagi ya!
Karena sentuhanmu bak asam sulfat
Yang bisa menghancurkan hatiku
Suatu hari nanti
Bila ada sesal dihatimu
Simpan saja sesalmu, simpan untukmu sendiri
Aku tak ingin dengar
Aku tak ingin peduli
Terlebih mencoba kembali
Itu takkan pernah!
Mungkin cinta itu masih untukmu
Tapi aku tak ingin salah lagi
Aku tak ingin hanyut lagi
Dan aku

Aku tak ingin hancur lagi karenamu

terima kasih

Hay kamu,
Terima kasih
Terima kasih telah memberi pelajaran berarti untuk saya
Terima kasih telah menunjukkan saya arti setia
Terima kasih mengajari saya kesabaran dari sebuah penghianatan yang kau lakukan
Terima kasih karena kamu saya berusaha tidak mendendam
Terima kasih karena kamu saya berusaha bersabar walau itu sulit
Hingga akhirnya pertahanan saya runtuh
Saya tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu mau
Saya tidak bisa menjadi seperti dia
Yang mungkin menurutmu lebih sabar lebih baik dan tidak pendendam
Terima kasih
Terima kasih memberi saya kesempatan untuk mengenal kamu
Memberi saya kesempatan untuk (mungkin) membuka hati untuk yang lain
Memberi saya kesempatan untuk mencari harapan yang baru lagi
Terima kasih atas waktu 3 tahun ini
Terima kasih mengajak saya berlari, berhenti
Membuat saya merasakan jatuh bangun
Dan terima kasih untuk satu hal yang terpenting
Terima kasih untuk penghianatan yang berulang kali kau lakukan
Yang bahkan kau tak pernah merasa bersalah sedikitpun
terima kasih untuk cintamu yang palsu


Sabtu, 01 Agustus 2015

Surat untukmu lelaki dibulan desember

Dear awan, 
hay kamu apa kabar? Lama rasanya tak berbincang denganmu, tak merengek padamu, dan ternyata kau bisa membuatku merindu :) hay awan bagaimana rokok mu? Sahabat setia yang katamu mengerti  apapun kondisimu. Ah kuharap kau tak lagi bersahabat dengannya. Masih kuingat bagaimana kerasnya kau mencoba. Berusaha menjauh dari 'sahabatmu" itu. Padahal saat itu kau hampir berhasil menarik simpatiku, mengetuk hatiku. Hay awan dicintai olehmu merupakan suatu keindahan tersendiri buatku, dan aku baru menyadarinya saat ku hampir kehilanganmu, ingin rasanya saat itu menahanmu dan mengatakan kau berhasil, tapi aku terlalu gengsi tuk mengaku cinta. Egoku terlalu tinggi tuk menerima bahwa kau menang. Kau menang atas hatiku. Dan kini egoku pula yang membuatku merasakan penyesalan bertubi-tubi. Bahkan penyesalan itu menghantui hingga sekarang.  Hay awan jika ada waktu sekali lagi kesempatan tuk bertemu denganmu., aku ingin dicintai sekali lagi olehmu. Aku ingin merasakan lagi keindahan yang sempat kurasa. Hay awan aku ingin jujur, aku mengaku kalah. !
Dan kini..
aku merindukan mu