Langit itu masih jingga
sayang,
Sampai sang malam
menghapus warnanya,
Senja itu masih merona
saga,
Hingga mentari bersembunyi
dalam dekapan malam,
Senja sore ini masih sama seperti kemarin,
Masih merona saga,
Langit pun masih jingga
Hanya ketiadaanmu yang membuatnya berbeda
membuatnya seakan
mengejekku
mengejek aku yang tak
henti meratap
mengejek kebodohanku yang
tak bisa terima
dan senja hari ini jadi saksi
betapa bodohnya aku yang tetap menantimu
menantimu
datang, menengok ke arah jalan,
berharap
kau datang dan berikan senyummu
tapi lagi - lagi senja
mengejekku
yah bagaimana tidak?
aku masih setia dengan
penantianku
sementara kau diluar sana
mungkin tertawa
kau
tau ?
aku tak sedang mencari simpatimu
aku
juga tak sedang bersandiwara
hanya saja aku mencari obat
mencari
obat untuk hatiku yang sedang luka
tapi kau tau?
tadi ku datang berharap
obat itu ada
dan nyatanya?
aku sudah tak berhak lagi
mendapatkannya
ntah berapa lapis kau buat benteng pertahanan
seberapa tinggi tembok yang kau bangun
hingga aku benar - benar tak mampu menembusnya
bahkan melihat bayangmu pun aku tak bisa
kau tau?
aku merindukan senja itu
senja dimana aku masih bisa menyapamu
senja dimana kau masih bisa tersenyum padaku,
walau senyum itu palsu
ntahlah,
biarkan aku bersikap layaknya anak kecil
merengek - rengek padamu,
berharap sesuatu yang tak mungkin
kau tau?
sepertinya aku tak lagi butuh ketulusan
yang kubutuhkan sekarang hanya hadirmu,
biarlah senyum yang kau beri itu palsu
biarlah rasa kau kau tunjukkan itu semu
biar kuterima
asal aku tak lagi sendiri,
asal hariku tak lagi sunyi


