Jumat, 17 April 2020

Seseorang Yang Tak Pernah Kuperhitungkan

Awalnya,  kehadirannya sama sekali tak pernah kuperhitungkan,  dan mungkin baginya akupun demikian.
Tak akan masuk dalam daftar seseorang yang mungkin dicintai.
Kita hanya bertukar sapa,  bertukar cerita,
Menceritakan kekasih masing-masing.
Dan entah bagaimana persisnya,  kita sama-sama ditinggalkan pasangan masing-masing.
Hari berganti bulan,  berganti tahun,  entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta,  atau mungkin lebih tepatnya "siapa yang lebih dulu berusaha jatuh cinta"
Lambat laun waktu memainkan perannya dengan sangat baik.
2 sayap yang sedang patah itu tiba-tiba ingin terbang bersama,  berusaha menguatkan satu sama lain.
Berusaha saling membahagiakan.
Namun lagi-lagi waktu kembali memainkan perannya,  kalimat yang pada mulanya "jalani saja seperti air mengalir"  tiba-tiba berubah menjadi keinginan memiliki secara utuh,  lucunya,  seseorang yang dulu tak pernah kuperhitungkan,  tiba-tiba menjadi seseorang yang begitu kuharapkan kehadirannya setiap saat.
Seseorang yang kata sahabatku hanya sebuah objek pelampiasan,  menjadi seseorang yang begitu kuinginkan.
Dan disaat yang sama,  waktu dengan tega memainkan perannya yang terakhir.
Dan seseorang yang tidak pernah kuperhitungkan itu,  menjadi seseorang yang paling melukai tanpa dia melakukan apapun selain "pergi"